Kegiatan Hari Keempat

Hari ini adalah tanggal 31 Mei 2015. Hari dimana kegiatan kami selesai.

Khusus hari ini, saya mengajak mereka untuk mewarnai.
Aktifitas hari ini sangat menyenangkan sama
seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya hari ini, cukup sedih karena tahu kalau hari ini terakhir saya mengajar di sini. Namun, saya sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk bisa mengajar selama 4 kali disini.
Yang membuat saya cukup terkesan adalah,
dihari ini anak-anak sudah banyak berubah. Yang mana hari pertama mereka masih suka ribut dan sedikit malas, namun hari ini mereka rajin dan sangat menikmati aktifitas belajarnya.

20150530_121057_HDR

Kegiatan Hari Ketiga

Kegiatan terus berlanjut. Dihari ketiga saya kembali mengajar anak-anak jalanan seperti biasa. Kegiatan kali ini dilaksanakan pada tanggal 30 Mei 2015.

Cuaca hari ini begitu panas seperti biasanya, dapat dilihat kondisi tempat yang sangat tandus dan penuh dengan tumpukan sampah. Meskipun begitu tidak melumpuhkan niat saya untuk tetap menjalani kegiatan mengajar di sini.

Hari ketiga, tetap diisi dengan kegiatan mengajar seperti biasa. Belajar berhitung, menulis nama dan membaca.

Seperti hari sebelumnya, hari ini pun adalah hari yang menyenangkan meskipun cukup lelah karena perjalanan yang cukup jauh.
Namun, semangat anak-anak untuk belajar memberikan semangat pula untuk mengajar dan bermain bersama mereka.

Saya sempat mengambil foto bersama seorang anak.
Anak laki-laki ini bernama Muhammad. Meskipun masih kecil dan belum bisa membaca serta belum dapat berbicara dengan lancar, namun dia selalu datang kalau ada kegiatan belajar. Dia punya semangat dan keinginan untuk belajar meskipun usia nya masih sangat dini.

20150531_095004

20150531_125647_HDR
Kami mengambil foto bersama setelah belajar menggambar dan mewarnai.
Senang sekali hari ini, dapat berbagi ilmu dan simpati pada anak-anak ini.

Kegiatan Hari Kedua

Kegiatan hari kedua dilaksanakan pada tanggal 24 Mei 2015. Kegiatan kedua ini saya mulai dengan aktifitas mengajar seperti biasa. Seperti hari sebelumnya, saya mengajari mereka bagaimana cara berhitung, seperti tambah-tambahan, dan kurang-kurangnya.  Perkembangan yang saya lihar adalah anak-anak yang pada sebelumnya masih belum terlalu paham mengenai cara berhitung, sedikit demi sedikit menunjukan kemajuan yang baik. Mereka juga semakin semangat untuk belajar.


Ini adalah hal yang sangat menyenangkan. Meskipun badan terasa lelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, ditambah macetnya Jakarta dan tempat yang sebenarnya kurang kondusif untuk proses belajar mengajar, namun, saya sangat bersyukur bisa berbagi ilmu kepada anak-anak yang kurang mampu. Dihari kedua ini, saya semakin semangat untuk mengajari mereka. Saya berharap dihari berikutnya mereka akan tetap semangat belajar. 

Kegiatan Hari Pertama

Kegiatan mengajar di Komunitas Peduli Anak Marjinal dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu. Adapun
kegiatan hari pertama dilakukan pada tanggal 23 Mei 2015.
Foto diatas memperlihatkan tempat saya melaksanakan kegiatan mengajar, yaitu di sebuah tempat yang sangat sederhana. Disinilah anak-anak jalanan berkumpul untuk menimba ilmu. Pada hari pertama, saya memperkenalkan diri saya dan mencoba untuk bisa berinteraksi dengan baik terhadap anak-anak. Saya mencoba untuk memahami apa yang dinginkan oleh anak-anak dan mencoba untuk membuat mereka merasa nyaman ketika saya datang sebagai seseorang yang baru mereka kenal.

Foto-foto berikutnya memperlihatkan aktifitas pertama saya mengajar anak-anak berhitung.

IMG_8376 IMG_8416
Mereka adalah anak-anak yang sangat bersemangat dan senang belajar. Semangat mereka lah yang membuat saya kagum dan semangat pula dalam melaksanakan kegiatan mengajar saya disana.

Sekian laporan kegiatan hari pertama saya mengajar di Komunitas Peduli Anak Marjinal

Pendahuluan dan Perencanaan Kegiatan

Nama saya Christoper Joshua (1801412215) dari Jurusan Teknik Industri dan Sistem Informasi (TDSI) Universitas Bina Nusantara.

Dalam rangka memenuhi tugas Character Building : Kewarganegaraan dan bekerja sama dengan Teach For Indonesia, saya berencana untuk melakukan kegiatan Community Service untuk melakukan kegiatan mengajar anak-anak marjinal.

Marjinal berasal dari bahasa inggris ‘marginal‘ yang berarti jumlah atau efek yang sangat kecil. Artinya, marjinal adalah suatu kelompok yang jumlahnya sangat kecil atau bisa juga diartikan sebagai kelompok pra-sejahtera. Marjinal juga identik dengan masyarakat kecil atau kaum yang terpinggirkan.

Jadi kaum marjinal adalah masyarakat kelas bawah yang terpinggirkan dari kehidupan masyarakat. contoh dari kaum marjinal antara lain pengemis, pemulung, buruh, petani, dan orang-orang dengan penghasilan pas-pasan atau bahkan kekurangan. Mereka ini adalah bagian tak terpisahkan dari negara kita.

Komunitas Peduli Anak Marjinal (Kopaja), merupakan sebuah komunitas yang peduli terhadap anak-anak kurang mampu. Setelah sebelumnya aktif dalam kegiatan sosial dan menempati sanggar di daerah Kebayoran, Jakarta, saat ini kembali memiliki sanggar atau tempat baru yang bertepatan di Jl. Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur. Hal tersebut disambut antusias oleh warga setempat. Kegiatan belajar mengajar menjadi prioritas utama dalam kegiatannya.

Peresmian sanggar tersebut dilakukan pada Selasa, (18/19) pukul 13.30 WIB dan diprakarsai oleh seorang donatur asal Singapura, yaitu Michael. Kegiatan tersebut dihadiri oleh anak-anak dan warga sekitar serta pengurus dari Kopaja. Michael sangat tertarik dengan Kopaja dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. “Saya sangat tertarik dengan komunitas ini dan memang setiap tahun ingin memiliki kegiatan-kegiatan seperti ini”, ujarnya. Menurut Michael, anak-anak marjinal ini harus tetap bisa sekolah karena memiliki potensi untuk maju dan tentunya juga masa depan.

Kepedulian terhadap pendidikan anak-anak yang kurang mampu, perlu ditingkatkan. Karena ini menyangkut masa depan mereka. “Kedatangan donatur tersebut harus dijadikan semangat untuk kemajuan Kopaja dan masa depan anak-anak,” kata Jupri selaku koordinator acara tersebut. “Kami berharap suatu saat bisa lebih banyak lagi warga Indonesia yang peduli terhadap anak bangsa. Namun, Kopaja juga juga harus menambah sumber daya manusianya dan manajemen organisasinya,” lanjutnya.
Dengan kehadiran donatur tersebut menjadi sebuah kelebihan tersendiri. Mengingat tidak semua anak-anak di Indonesia mendapatkan pendidikan yang baik. Komunitas ini bisa dijadikan momentum kebangkitan anak bangsa. “Ini sebuah kelebihan bagi kami, karena pedulinya warga di luar Indonesia yang peduli dan memperhatikan pendidikan anak-anak yang kurang mampu,” tutur Agus selaku pembina warga sekitar. Tidak hanya dalam hal pemberian alat tulis, namun selanjutnya Michael juga akan memberikan sesuai kebutuhan Kopaja. Menurut Agus, ini bisa dijadikan acuan, agar tidak hanya mementingkan nasib anak yang mampu, namun juga anak marjinal. Jangan sampai hal yang menimpa orang tuanya, itu terjadi pula terhadap anaknya atau turun temurun, seperti tidak bisa membaca, dan sebagainya.

533942_234678216674128_1513326210_n

Tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan ini, sebagai berikut:
1. Kegiatan Memiliki Dampak baik bagi Komunitas / diri sendiri
2. Dapat memberikan motivasi bagi anak-anak jalanan dalam hal pendidikan
3. Berbagi ilmu pengetahuan yang saya miliki
4. Melaksanakan kewajiban saya sebagai warga negara yang baik, dalam hal berkontribusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak di Indonesia
5. Menumbuhkan rasa kepedulian dan simpati sebagai makhluk sosial

Kegiatan Mengajar Hari Terakhir di PAUD Assova

Pada hari Jumat tepatnya tanggal 31 Oktober 2014, saya dan teman” saya kembali mengajar di PAUD Assova. Hari itu adalah hari terakhir kita mengajar disana. Sama seperti biasanya, kita menuggu anak-anak PAUD untuk berdoa terlebih dahulu. Setelah selesai berdoa, mereka pun memasuki kelas masing-masing. Saya dan teman saya, Giordy pun ikut memasuki kelas dan mulai mengajar. Pada hari itu, kami berdua mengajari mereka untuk melipat origami atau kertas lipat. Mereka sangat antusias dalam melipat. Ada yang sudah bisa melipat dan ada juga yang belum bisa. Rata- rata mereka sudah bisa melipat pesawat dan bunga. Setelah semua seleasi melipat pesawat, saya dan teman saya pun mendapatkan ide. Kita menyuruh mereka untuk k halaman belakang dan melakukan lomba menerbangkan pesawat. Mereka sangat antusias dan bersemangat sampai mereka berulang kali melakukan lomba itu. Setelah selesai, mereka pun masuk kembali ke kelas dan makan. setelah selesai makan, kita melakukan perpisahan di halaman belakang. Kita bermain bersama, berfoto-foto bersama, dan bercanda ria bersama. Setelah selesai, saya dan teman” saya memberikan bingkisan sebagai kenang-kenangan kami karena telah diperbolehkan mengajar di PAUD tersebut. Kita pun berfoto bersama guru-guru di PAUD tersebut. Setelah selesai, kita berkumpul untuk melakukan evaluasi selama kita mengajar disana. Sekian post dari saya. Terima kasih.

By: Kelvin Handoko / 1801390385

PERJUANGAN TERAKHIR

Pada hari terakhir tugas kami yaitu pada hari jumat tanggal 31 oktober 2014,kelompok kami sudah menyiapkan diri semaksimal mungkin dalam berbagai hal baik dalam hal menhajar dan materi,maupun dalam hal hadiah kenang-kenagan.Seperti biasa kegiatan pada hari jumat diawali dengan berdoa dan bernyanyi bersama-sama di halaman belakang paud tersebut.Setelah selesai,kegiatan dilakukan di masing-masing kelas dengan materi yang berbeda-beda pula per kelasnya.Kelas saya dan teman saya kelvin menyiapka materi lipat melipat kertas origami serta mengenal macam-macam warna.Selama kegiatan lipat melipat kertas berlangsung,ternyata banyak anak-anak yang tertarik dengan bentuk bunga dan pesawat.Di akhir kegiatan,kami mengadakan lomba menerbangkan pesawat dan ternyata mereka sangat antusias.Setelah selesai kegaiatan di kelas,kami semua beserta guru dan anak-anak paud berkumpul di halaman belakang sekolah untuk melakukan acara penutup yang diawali dengan foto bersama,kemudian dilanjutkan dengan ucapan terima kasih serta penyerahan kenang-kenangan dari kami masing-masing untuk kemajuan dan kelancaran pembelajaran paud tersebut.Setelah acara selesai,kami pun saling bersalaman dan pulang ke rumah masing-masing.Nilai pancasila yang diterapkan adalah sila ke 3 yaitu persatuan indonesia yang dicerminkan dalam hal kebersamaan di dalam perbedaan.Pelajaran yang dapat diambil adalah “TAK KENAL MAKA TAK SAYANG” , karena selama kita belom mengenal seseorang dengan baik maka kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan yang abadi.

EDDYSON GIORDY/1801412726

PERJUANGAN KETIGA

Pada hari jumat tanggal 24 oktober 2014,kelompok kami melanjutkan perjuangan kami untuk meningkatkan standar pendidikan di PAUD tersebut.Pada hari itu seperti biasa,kegiatan belajar mengajar diawali dengan bernyanyi dan berdoa bersama serta membaca surat-surat.Setelah itu,kegiatan dilanjutkan dengan belajar di kelas masing-masing dimana saya dan kelvin sudah menyiapkan materi penjumlahan dan pengurangan angka 1-10.Sebagai pembukaan,kami berdua mengajarkan cara menulis dan menghitung angka di papan dan melalui metode menghitung dengan jari tangan.Setelah itu,kami mengadakan sedikit tes dengan membagikan soal di kertas yang telah kami siapkan dan kami print dari rumah.Selama tes berlangsung,ternyata masih banyak anak-anak yang masih belum lancar menulis angka dan juga masih ada beberapa anak yang bertanya mengenai jawaban pada tes tersebut.Setelah tes selesai kami melanjutkan kegiatan belajar sambil bermain  yang masih sesuai dengan tema pada hari itu,yaitu dengan cara membuat lego dengan cara menghitung banyaknya lego dan menyusunnya sesuai dengan bentuk yang mereka sukai.Setelah selesai,kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama dan pulang ke rumah masing-masing.Pada hari ini,nilai pancasila yang dapat diterapkan adalah sila ke 5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia diman hal tersebut diterapkan pada kegiatan menyusun lego dengan cara membebaskan mereka membuat bentuk sesuai keinginan mereka.Pelajaran yang dapat dipetik yaitu pemahaman akan suatu hal yang mendasar dapat menjadi suatu hal yang akan sangat berarti di masa depan.

EDDYSON GIORDY/1801412726

Pertemuan Terakhir di PAUD Ashofa

Richard Maximillian Aditya Pribadi, 1801393292

31 Oktober 2014

Hari ini akan menjadi hari terakhir kami mengajar di PAUD Ashofa. Seperti pada hari – hari sebelumnya, kami semua berkumpul di PAUD, dan menunggu bel mulai berbunyi sementara kami melihat para murid bermain sebelum bel berbunyi.

Bel masuk berbunyi, dan seperti biasa, para murid berdoa dan bernyanyi bersama –sama dengan para guru sebelum masuk kelas. Setelah seleasai berdoa, kami pun mulai mengajar.

Hari ini saya mengajari mereka tentang sedikit geometri, tentang bentuk – bentuk sederhana dan nama – nama bentuk tersebut, termasuk mengapa bentuk – bentuk itu dinamai sedemikian rupa. Hari ini, para murid terkesan cepat belajar dan responsif, dan saya juga tidak merasa se-canggung pada hari – hari sebelumnya. Teman se-kelompok saya, Joshua, kemudian juga mengajari para murid dengan angka – angka dan namanya dalam bahasa Inggris, dan saya juga ikut membantu. Pengajaran hari ini terasa menyenangkan, dan tak terasa bel istirahat pun berbunyi.

Di lapangan, kami semua saling bermain, saling bersenang – senang dan berfoto bersama – sama. Memang, ini adalah hari terakhir kami mengajar di sini. Setelah kami semua selesai bermain – main, kami berkumpul di lapangan, para murid berbaris, dan kami semua menyampaikan salam – salam perpisahan masing – masing.

Setelah kami dan para murid saling berpisah, kami pun berkumpul di ruang rapat para guru, dimana kami saling berdiskusi tentang hal – hal yang telah terjadi pada pertemuan – pertemuan ini.

Secara rata – rata, para guru di PAUD Ashofa mengatakan bahwa kita mengajar dengan cukup baik, meskipun karena ini memang baru pertama kalinya kami mengajar anak kecil, kami sangat canggung. Tapi kami telah membaik seiring waktu. Saya menganggap bahwa pengalaman mengajar ini adalah pengalaman yang baik dan menyenangkan, suatu pengalaman yang akan saya ingat untuk waktu yang lama.